Kelulusan SMP diumumkan diacara upacara bendera dipagi hari yang terik. Ketegangan mengakibatkan jantung semakin berdetak kencang ketika kepala sekolah mengumumkan bahwa ada dua siswa yang dinyatakan tidak lulus. Beliau menyebutkan nama-nama dan memerintahkan mereka untuk datang ke podium. " Vivi dan Viko, tolong maju kedepan." kata kepala sekolah. Dengan perasaan yang kacau balau akhirnya Vivi dan Viko datang ke podium upacara. dengan linangan air mata, Vivi berusaha tegar seandainya memang dia yang harus mengalami cobaan ini. Dengan wajah yang datar kepala sekolah mendatangi mereka. " Maafkan bapak y, selamat kalian berdua lulus ujian. sekolah kita 100% lulus semua. kalian menjadi lulusan terbaik dengan nilai yang sama walaupun kalian tidak satu ruangan." ucap kepala sekolah.
Sebuah mimpi buruk bagi Vivi dan Viko mendengar berita ini. Mereka selalu bersaing bahkan sejak awal sekolah, ketika mereka dikelas satu.
" Selamat ya." ucap Viko kepada Vivi dengan bibirnya yang menyeringai. Vivi hanya terdiam tanpa ekspresi menanggapi keusilan Viko.
"Hari ini kesempatan terakhir kita bertemu, jadi jangan bikin kesal aku y."
" Kamu mau kemana Vi? buaknnya kamu ngajak aku taruhan untuk masuk SMA 1. Nyerah y?"
Sambil berjalan menuju kebarisannya semula, Vivi hanya terdiam. Hal ini menyebabkan Viko penasaran berat. Dia merasa ada sesuatu dengan rival nya tiap tahun.